Kutus Kutus Indonesia

Tentang Kami

sepenggal kisah

kutus kutus lover

Sang Penemu & Peracik

Pada tahun 2011, Servasius Bambang Pranoto mengalami kelumpuhan akibat terjatuh di pematang sawah saat memikul kentang seberat 10 kilogram. Meski sudah berobat ke dokter, kedua kaki Bambang tak kunjung sembuh. Nyaris putus asa, Bambang pun mencoba bermeditasi. Disaat itulah, inspirasi membuat ramuan dari berbagai tanaman herbal dan rempah-rempah lahir. Bambang lalu membuat minyak balur berdasarkan resep tradisional leluhur, yang terdiri atas tujuh unsur dari tujuh tanaman, dan dikenal sebagai Pohon Kehidupan.

Walau tak memiliki latar belakang dalam dunia pengobatan, Bambang telah akrab dengan dunia herbal dan jamu-jamuan sejak tahun 1988. Ia kemudian belajar lebih dalam bagaimana cara meracik minyak dengan mengikuti proses pembuatan dari warisan kebudayaan beberapa daerah. Ia mempelajari metode penyembuhan tradisional yang memanfaatkan kekayaan alam. Seluruh bahan rempah-rempah yang jumlahnya 69 tersebut diperolehnya dari bukit yang terletak di belakang rumahnya di desa Bona, Gianyar, Bali, sebuah desa asri yang ditempatinya sejak tahun 2002, setelah pindah dari Jakarta.

Dalam waktu tiga bulan, racikan minyak yang dibuatnya terbukti berkhasiat mengobati kakinya yang lumpuh sehingga ia mampu berjalan lagi. Tak ingin pengalaman ini hanya dinikmati olehnya, Bambang melakukan riset selama satu tahun, dari tahun 2012 hingga tahun 2013, untuk menemukan racikan minyak balur yang aromanya pas, beraroma sedap, dan mudah meresap ke dalam tubuh. Ia kemudian memproduksi 500 botol minyak yang diberi nama Kutus Kutus (bahasa Bali, artinya ‘delapan-delapan’). Sayangnya, tidak ada satu pun minyaknya yang laku pada saat itu.

Karena kerinduannya untuk membagikan khasiat minyak tersebut semakin besar, akhirnya Bambang menunjuk seorang distributor untuk memasarkan minyak Kutus Kutus, seraya memfokuskan diri pada produksi. Perjalanan bisnis minyak Kutus Kutus sempat mengalami masalah. Akhirnya ia memutuskan untuk menata Kembali jaringan distribusinya dan menangani langsung segala perihal penjualan. Setelah pemasaran Kembali diambil olehnya, angka penjualan minyak Kutus Kutus bergerak naik secara signifikan.

Pada tahun 2017, Izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya diperoleh, setelah empat tahun diajukan. Sebelum mendapatkan izin edar, Bambang mengaku sempat mendapatkan teguran dari berbagai instansi yang mengkritik caranya membuat minyak Kutus Kutus dari dapur rumahnya yang dianggap tidak sesuai dengan standard pembuatan obat yang baik.

Servasius Bambang Pranoto

error:
Chat Kami
Hub. Kami
Hai Kak,
Ada yang bisa kami bantu?